Buscar

Páginas

Apa aku bagimu???

Mengapa harus ada perhatian padaku?
Jika tak ada cinta dihatimu ..
Seakan kau memberiku harapan,
Aku takut bila hanya rasaku saja, dan semua palsu..

Lalu...
Apa aku bagimu?
Sebab apa kau lakukan padaku?
Tak bisakah... 
Kau abaikan aku... diamkan aku..biarkan aku...

Bila..
Ku bukanlah bintang dihatimu...

CINTA...

Terkadang ku tak bisa memahami cinta
terlalu sulit tuk di makna
terlanjur rapuh dan lemah hati ini
air mata tak bisa terbendung lagi...

Semua karna keadaan yang menghalangi
nasib sudah ditakdirkan Sang Ilahi
hanya merenung dan menyempurnakan kembali
masa yang menyayat hati...

Memang cinta yang indah
tak bisa selamanya mulus
tak bisa seperti jalanan yang lurus
dan menjadi Seindah Pelangi...

Namun, cinta hanya butuh percaya
dan setia yang akan menyatukan...

Puisiku untukmu

Puisi ini mungkin tidak seindah puisi lain..
tapi puisi ini mempunyai arti yang dalam untukku,
dan setiap kta-kata yang tertulis disini,
berasal dari senyuman yang aku dapat darimu...
mendorong pena untuk menyampaikan arti ini..

puisi yang kau baca ini,
kau tau aku tak berani mengungkap
aku tak berani mengakui
semua rasa tertanam dalam hati...
aku...
hanya ingin kau tau,
semua itu adalah KAU.. (^ - ^)

Berdiri di Hadapan Allah



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta raya yang tiada sekutu bagi-Nya. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, teladan sempurna tanpa cela bagi kehidupan.
Saudaraku, bagaimana kabar imanmu hari ini? Masihkah ia sebening embun yang menetes di dedaunan, berkilau namun tetap sejuk? Aku senantiasa berdoa agar kekeruhan dunia tak mengotorinya.
Bagaimana kabar ketaatanmu hari ini? Sudahkah seperti Abu Bakar ra yang selalu terdepan dalam kebaikan, yang berusaha mereguk sebanyak mungkin pahala? Aku berdoa agar hiruk pikuk aktivitas tak melalaikanmu mengingat-Nya
Aku ingin bercerita sebuah kisah kepadamu tentang sebuah hari yang besar, saat aku dan kau berdiri di tempat yang sama.
“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi rapuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy ( singgasana ) Rabbmu di atas kepala mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Rabbmu, tidak ada sesuatupun dari kamu yang tersembunyi bagi Allah.” ( Al Haqqah: 13-18 )
Pada hari itu, setelah sangkakala kedua ditiup, ruh-ruh kita dikembalikan ke jasad. Semua yang terpencar pencar dikumpulkan kembali oleh Allah menjadi jasad yang utuh kembali. Berdiri di hadapan Allah untuk menghitung amalan yang telah tertunaikan di dunia. Dan, matahari mendekati kita dengan jarak kira-kira satu mil. Tiada naungan. Mungkin kita akan memandang iri kepada orang-orang yang mendapat naungan Allah di terik yang membakar itu. Ya, sebagimana hal itu telah disampaikan Rasul tercinta:
“Imam ( pemimpin ) yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, seorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Alla, keduanya bersatu karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang pria yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan , tetapi ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang mengeluarkan suatu sedekah yang ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian sehingga berlinang air matanya.” ( HR Bukhari )
Ingin rasanya termasuk ke dalam salah satu golongan itu, tak sekedar memandang iri menggigit jari. Tak cukup sampai disitu, terik yang membakar ditambah dengan cucuran keringat. Ada yang sampai mata kaki, pundak, bahkan mulut. Makin tak sanggup membayangkan.
Lalu, amalan di dunia ditimbang dengan seadil-adilnya. Kebaikan dan keburukan sekecil apapun. Aku berfikir, evaluasi seperti apa yang akan ku terima? Aku juga bertanya, dapatkah kuangkat wajahku saat perhitungan itu tiba. Berseri-seri kah atau tertunduk hina? Aku ingat pada firman-Nya bahwa pada hari itu ada orang-orang yang wajahnya berseri karena yakin akan balasan amal shalihnya di dunia, tetapi ada juga orang-orang yang tertunduk hina menyesali kelalaian yang telah berlalu.
Aku tertegun mengingat sebuah kisah dari zaman terbaik.
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat ”
Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku,tolong ulangi lagi shalatmu, Engkau tadi belum shalat.”
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku ”
“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.” ( HR. Bukhari )
Ternyata, ibadah-ibadah yang tertunai, terutama sholat masih begitu jauh dari sempurna. Lalu bagaimanakah keadaanku pada hari itu. Padahal sholat adalah yang pertama kali Dia tanyakan di saat perhitungan amal. Belum lagi sedekah yang begitu jarang, lisan yang masih sering membicarakan aib saudara seiman dan serentetan amal tercela yang ada pada diri.
Bagaimana bila akhirnya aku berdiri di hadapan Allah dengan wajah tertunduk hina, menerima catatan amalku dari sebelah kiri. ‘Mengantri’ dengan yang lainnya memasuki api yang sangat panas yaitu neraka, diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas...
“Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, karena bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki api yang sangat panas.” (Firman Allah dalam Al Ghasyiyah ayat 2-4). Tak sanggup diri membayangkan. Kengerian tanpa batas.
Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang wajahnya berseri-seri karena merasa senang atas usaha sendiri. Menerima catatan amal dari sebelah kanan. Memasuki surga yang tinggi, buah-buahan di dalamnya dekat. Dan, kenikmatan tertinggi itu ingin kurasakan, yaitu melihat wajah Allah.
Dari Shuhaib r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila penduduk syurga telah masuk syurga.” Nabi berkata, “Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu tambahan dari-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam syurga dan menyelamatkan kami dari neraka?’.” Nabi berkata, “Maka Allah pun menyingkapkan hijab -yang menutupi wajah-Nya-. Dan tidaklah ada kenikmatan yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [2/297])
Bagaimana denganmu, saudaraku?


Sumber Inspirasi:
Al Quranul Karim dan Terjemahannya
Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad Al Utsaimin
kisahislami.com

Maka aku memilih menebar cinta Nya...



“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”. (KH Rahmat Abdullah)
Syahdu rasanya membaca tulisan di atas, begitu indahnya ketika kita meyakini bahwa dakwah adalah cinta. Dan sebagaimana yang kita tahu bahwa cinta selalu memiliki keinginan untuk memberi, memberikan yang terbaik bagi orang disekitar kita, memberikan yang terbaik bagi umat yang kita cintai dan memberikan yang terbaik bagi agama dan negara kita.
Dengan cinta jualah kita masih bertahan dijalan penuh liku ini, di jalan tanpa ujung yang terkadang menimbulkan banyak luka di sana sini, dengan cinta jualah sekalipun hati menjerit, fikiran lelah dan harta terkuras tapi tidak juga membuat kita ragu untuk beranjak dari jalan ini.
            Sebagaimana yang telah di contohkan oleh Sang Tauladan kita, Perilaku Rosulullah terhadap wanita Yahudi buta yang senantiasa mencaci maki beliau. Sungguh indah balasan yang diberikan Rosulullah terhadap wanita ini, tanpa ragu dan dengan penuh ikhlas beliau senantiasa menyuapi wanita tersebut dengan roti yang dicelupkan ke susu, sampai berbulan lamanya dan selama itupun wanita itu tidak tahu bahwa ternyata yang menyuapi itu adalah orang yang selama ini selalu dihina dan dicaci olehnya, Wanita Yahudi buta ini baru menyadari ketika Rosulullah sudah wafat sehingga mengetuk hatinya untuk memeluk agama yang penuh dengan ketulusan ini. Ya.. beginilah ketika cinta sudah merasuki tubuh dakwah, tidak ada lagi pemaksaan ataupun kediktatoran, yang ada hanya ketenangan yang mengalir begitu indah merasuki jiwa jiwa yang menunggu uluran sinar cahaya Illahi.
“segala yang keluar dari hati akan masuk ke hati”
            Menghadirkan kebaikan bagi mereka yang ada disekitar kita adalah hakikat dari cinta dan dakwah itu sendiri, Cinta dan dakwah karena Allah adalah cintanya orang asing yang selalu bersemangat untuk menebar kebaikan, cinta yang bukan hanya sekedar kata benda tetapi juga kata kerja.
“karena hembusan cinta maka kuncupnya pun telah menjelma menjadi bunga..”
            Siapkah kita untuk tidak hanya sekedar mengajak pada kebaikan tetapi juga menebarkan cinta bagi orang yang kita dakwahi, menjaganya dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu agar semakin merekah indah, lalu dengan kuasa Allah nantilah bunga yang telah kita sirami dengan kasih sayang dan kita jaga dengan ketulusan itu bisa menebar keindahan bagi lingkungan sekitarnya.
            Adapun ketika kita sudah berusaha berdakwah sebaik mungkin, menyentuh hati dengan hati dan senantiasa menyertakan orang yang kita dakwahi dalam doa kita, tapi tetap Allah lah yang bisa menggariskan semuanya, karena Allah lah pemilik agama ini dan kita hanyalah bekerja dalam rangka beribadah karena Nya.
            Namun.. entah dicaci, dimaki maupun dihormati tetap saja kita harus memilih untuk menebar cinta Nya bukan????  Karena teko akan selalu mengeluarkan apa yang dimilikinya.. J
Hamasah!!!!