Segala puji bagi Allah,
Rabb semesta raya yang tiada sekutu bagi-Nya. Sholawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah SAW, teladan sempurna tanpa cela bagi kehidupan.
Saudaraku, bagaimana
kabar imanmu hari ini? Masihkah ia sebening embun yang menetes di dedaunan,
berkilau namun tetap sejuk? Aku senantiasa berdoa agar kekeruhan dunia tak
mengotorinya.
Bagaimana kabar
ketaatanmu hari ini? Sudahkah seperti Abu Bakar ra yang selalu terdepan dalam
kebaikan, yang berusaha mereguk sebanyak mungkin pahala? Aku berdoa agar hiruk
pikuk aktivitas tak melalaikanmu mengingat-Nya
Aku ingin bercerita
sebuah kisah kepadamu tentang sebuah hari yang besar, saat aku dan kau berdiri
di tempat yang sama.
“Maka
apabila sangkakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan
gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu
terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit karena pada hari itu langit
menjadi rapuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari
itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy ( singgasana ) Rabbmu di atas kepala
mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Rabbmu, tidak ada sesuatupun dari
kamu yang tersembunyi bagi Allah.” ( Al Haqqah: 13-18 )
Pada hari itu, setelah
sangkakala kedua ditiup, ruh-ruh kita dikembalikan ke jasad. Semua yang
terpencar pencar dikumpulkan kembali oleh Allah menjadi jasad yang utuh
kembali. Berdiri di hadapan Allah untuk menghitung amalan yang telah tertunaikan
di dunia. Dan, matahari mendekati kita dengan jarak kira-kira satu mil. Tiada
naungan. Mungkin kita akan memandang iri kepada orang-orang yang mendapat
naungan Allah di terik yang membakar itu. Ya, sebagimana hal itu telah
disampaikan Rasul tercinta:
“Imam
( pemimpin ) yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah,
seorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid, dua orang yang saling
mencintai karena Alla, keduanya bersatu karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
seorang pria yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan
, tetapi ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang
mengeluarkan suatu sedekah yang ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya dan seorang yang
berdzikir kepada Allah sendirian sehingga berlinang air matanya.”
( HR Bukhari )
Ingin rasanya termasuk
ke dalam salah satu golongan itu, tak sekedar memandang iri menggigit jari. Tak
cukup sampai disitu, terik yang membakar ditambah dengan cucuran keringat. Ada
yang sampai mata kaki, pundak, bahkan mulut. Makin tak sanggup membayangkan.
Lalu, amalan di dunia
ditimbang dengan seadil-adilnya. Kebaikan dan keburukan sekecil apapun. Aku
berfikir, evaluasi seperti apa yang akan ku terima? Aku juga bertanya, dapatkah
kuangkat wajahku saat perhitungan itu tiba. Berseri-seri kah atau tertunduk
hina? Aku ingat pada firman-Nya bahwa pada hari itu ada orang-orang yang
wajahnya berseri karena yakin akan balasan amal shalihnya di dunia, tetapi ada
juga orang-orang yang tertunduk hina menyesali kelalaian yang telah berlalu.
Aku tertegun mengingat
sebuah kisah dari zaman terbaik.
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid
Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk
bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke
dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW
dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau
tadi belum shalat ”
Betapa
kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat
shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat
dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat “gaya” shalat seperti
itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia
kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu,
“Sahabatku,tolong ulangi lagi shalatmu, Engkau tadi belum shalat.”
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah
melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia
menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh
orang tersebut mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata,
“Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak
bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku ”
“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum,
“Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian
bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah.
Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau
berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga
engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.” ( HR.
Bukhari )
Ternyata, ibadah-ibadah yang tertunai, terutama
sholat masih begitu jauh dari sempurna. Lalu bagaimanakah keadaanku pada hari
itu. Padahal sholat adalah yang pertama kali Dia tanyakan di saat perhitungan
amal. Belum lagi sedekah yang begitu jarang, lisan yang masih sering
membicarakan aib saudara seiman dan serentetan amal tercela yang ada pada diri.
Bagaimana bila akhirnya aku berdiri di hadapan
Allah dengan wajah tertunduk hina, menerima catatan amalku dari sebelah kiri.
‘Mengantri’ dengan yang lainnya memasuki api yang sangat panas yaitu neraka,
diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas...
“Pada hari
itu banyak wajah yang tertunduk hina, karena bekerja keras lagi kepayahan,
mereka memasuki api yang sangat panas.” (Firman Allah dalam Al Ghasyiyah
ayat 2-4). Tak sanggup diri membayangkan. Kengerian tanpa batas.
Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang
wajahnya berseri-seri karena merasa senang atas usaha sendiri. Menerima catatan
amal dari sebelah kanan. Memasuki surga yang tinggi, buah-buahan di dalamnya
dekat. Dan, kenikmatan tertinggi itu ingin kurasakan, yaitu melihat wajah
Allah.
Dari Shuhaib r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila penduduk syurga telah masuk syurga.”
Nabi berkata, “Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Apakah kalian
menginginkan sesuatu tambahan dari-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Bukankah Engkau
telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke
dalam syurga dan menyelamatkan kami dari neraka?’.” Nabi berkata, “Maka Allah
pun menyingkapkan hijab -yang menutupi wajah-Nya-. Dan tidaklah ada kenikmatan
yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka sukai daripada memandang Rabb
mereka ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [2/297])
Bagaimana denganmu, saudaraku?
Sumber Inspirasi:
Al Quranul Karim dan Terjemahannya
Syarah Aqidah Wasithiyah, Syaikh Muhammad Al
Utsaimin
kisahislami.com